Kliping Artikel Islam

Kliping Artikel Islam

Puasa di Bulan Muharram

sumber :http://darussalaf.or.id

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram, adapun bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, hal ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesunggunhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al-Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat diantaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36).

Diantara hari dari hari-hari yang mulia dalam Islam adalah 10 hari pada bulan Muharram, karena mulianya orang-orang yang senangnya menyelisihi syari’at pun ikut merayakannya walau pun mereka rayakan dengan cara mereka sendiri-sendiri yang sangat bertolak belakang dengan syari’at, dan ternyata hari tersebut juga sangat dimuliakan oleh orang-orang Yahudi.
Para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka mengerti dan tahu persis bahwa orang-orang Yahudi benar-benar memuliakan hari tersebut, maka dari itu mereka berkata kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- : “Ya Rasulullah, sesungguhnya Asyura’ itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (asyura’).”
(HR. Muslim(1134) dari Ibnu Abbas).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245.
Imam Syafi’i juga menyebutkannya di dalam kitab Al-Umm).

Keutamaan Asyura’

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu berkata: “Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu
dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR Bukhari No 1900)

Dan Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengkisahkan,
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin
(berpuasa ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR Al Bukhari no 1897).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah
puasa dibulan muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam” ((HR. Muslim,1163).

Dalam hadits lain beliau menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘asyura bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat, sebagaimana hadits dari Abu Qatadah radliyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyura’, maka beliau menjawab: “Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim (1162), Ahmad 5/296, 297).
Ibnu Abbas berkata : “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura’) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini
(maksudnya: Ramadhan).” (HR. Al-Bukhari (2006), Muslim (1132)).

Semoga dengan keterangan yang sangat ringkas ini menjadi sebab bagi kita untuk tidak mau ketinggalan dari memuliakan bulan Muharram, yang tentunya kita memuliakannya dengan perkara yang telah disyari’atkan dan kita memperbanyak melakukan amalan shalih di dalamnya, serta kita tidak mau pula ketinggalan dari meraih keutamaan untuk melaksanakan puasa asyura’. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bisa berjumpa dengan bulan yang mulia
tersebut, dan semoga kita diberikan kekokohan dan kekuatan sehingga kita bisa bersungguh-sungguh menyambutnya kemudian kita melaksanakan.

Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya.

Written by mumtazanas

Januari 18, 2008 pada 12:27 pm

Ditulis dalam fiqih

Tagged with ,

%d blogger menyukai ini: